Kontak Webmail  
Informasi Layanan
Berita
Agenda Kegiatan
Link Terkait
Galeri
Peta
Jaringan Prasarana Pelabuhan
Jaringan Prasarana Bandara
Link Terkait
Pemprov Kaltim
Statistik Perhubungan
GIS Prasarana Transportasi
Pemerintah Kota Samarinda
PT. Angkasa Pura I
User Login
User Id   
Password   
  
 
Buletin
 
 
ARSIP BERITA
 
..::Dishub - Kaltim::.. Lanud Kalimantan Jadi Sorotan
2012-10-04 12:18:27

Pangkalan Udara (Lanud) TNI AU Balikpapan menargetkan dalam waktu 2x24 jam, Michael Boyd (53) segera keluar dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kelanjutan nasib pilot Amerika Serikat (AS) yang tertangkap itu seperti disampaikan Komandan Lanud Balikpapan Kolonel Pnb Djoko Senoputro, Rabu (3/9).

“Kami pastikan dia akan beranjak dalam kurun 2x24 jam, atau minimal sampai Jumat (5/10) besok dia sudah beranjak dari sini setelah Flight Approval (FA, persetujuan terbang, Red) diurus,” ungkap Danlanud.

Sebelum meninggalkan Indonesia, Mike --sapaan akrab Michael Boyd-- diwajibkan melengkapi sejumlah administrasi, seperti security clearance maupun FA dari tiga institusi terkait, yakni Mabes TNI, Kementerian Luar Negeri, dan Kementerian Perhubungan.

Danlanud menyebut, pada malam sebelumnya, perwakilan dari PT Pegasus Air Charter sudah diminta datang untuk menindaklanjuti sekaligus menyelesaikan administrasi di otorita bandara, mengingat perwakilan Kemenhub Balikpapan akan mengirimkan tembusan ini ke pusat.

“Saya paksa Pegasus untuk segera datang ke sini, karena FA enggak akan terbit jika belum ada tindak lanjut dari operator penerbangan kepada Dirjen Perhubungan Udara. Untuk kendala denda administrasi, Hawker melimpahkan ke PT Pegasus yang kami paksa malam ini sudah mengurus izin tersebut,” tegas Djoko.

Diketahui, Hawker Pacific melimpahkan segala denda dan beban administrasi kepada PT Pegasus --selaku operator dalam negeri-- perihal Cessna 208 yang rencananya digunakan di Papua tersebut.

Mike Boyd, pilot pesawat Cessna 208 milik operator penerbangan Hawker Pacific, melanggar kedaulatan teritorial NKRI pada Minggu (30/9) pukul 13.25 Wita, dengan memotong rute dari Palau-Singapura. Penerbangan juga menggunakan nomor security clearance yang salah.

Mike mengaku mendapatkan security clearance dari Ruslan Johar (dugaan sementara warga Singapura), agen Hawker Pacific. Menurut Lanud Balikpapan, dua nomor security clearance yang digunakan Mike ternyata salah atau tak sesuai dengan data tujuan yang diterima radar pertahanan udara nasional. Yakni, DGCA/KK/103/09/12 dan DGCA/SA/117/9/12.

Mike sendiri kembali sulit ditemui. Hanya, ketika diwawancarai Senin (1/9) lalu, dia mengaku bosan dengan aktivitas karantina di Mess Pringgondani, Lanud Balikpapan. “Menunggu izin terbang saya selesai. As soon as possible (secepat mungkin), saya akan beranjak dari sini,” ucap dia, didampingi Kepala Intel Lanud Kapten Sus Tommy Wahyu, pendamping Mike selama berada.



NKRI TAK DIREMEHKAN

Peristiwa force down (turun paksa) pesawat yang dipiloti Mike, juga memberi hikmah tersendiri bagi Lanud Balikpapan dan kawasan Kalimantan pada umumnya. Pihak Lanud mengaku menerima respons langsung dari Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Imam Sufaat. Diketahui dengan adanya kejadian force down , kondisi Lanud yang saat ini belum ada satu pun pesawat tempur stand by menjadi sorotan.

Danlanud Kolonel Pnb Djoko Senoputro juga mengakui, meski jumlahnya belum bisa dipastikan, penerbangan gelap tak berizin di wilayah udara NKRI ditengarai marak. Walau begitu, TNI selalu sigap menjaga kedaulatan.

“Sudah terdaftar di Mabes TNI untuk jumlah penerbangan yang mempunyai security clearance. Jadi, untuk penerbangan gelap, tentu mereka sudah sigap meng-intercept dengan (pesawat tempur, Red) Sukhoi. Pengawalan wilayah Indonesia sangat ketat, tidak ada kesan diremehkan,” tegasnya, sembari mencontohkan terkait kasus penerbangan gelap oleh pesawat Pakistan beberapa waktu lalu.

Wilayah udara Balikpapan juga tetap terjaga. “Teritorial Balikpapan 24 jam terjaga. Sementara dengan kapasitas Lanud Balikpapan yang baru meningkat ini (menjadi Tipe B, Red), Lanud Manado dan Makassar menjadi alternatif terdekat untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk,” ungkap Djoko.

Sekadar diketahui, dari 5 Lanud yang ada di Kalimantan, beberapa di antaranya yang berbatasan langsung dengan Malaysia masih berkutat dengan fasilitas Tipe C. Yakni, Palangkaraya, Pontianak, dan Tarakan. Sisanya, baru Balikpapan dan Banjarmasin bertipe B. Untuk penanganan pertempuran udara, kelima Lanud tersebut juga masih mengandalkan bantuan berupa pesawat tempur Sukhoi dari Skuadron 11 Lanud Hasanudin Makassar.

“Secara berangsur kesiapan sarana dan fasilitas tempur Lanud Balikpapan akan terpenuhi. (Pesawat baru) Super Tucano buatan Brazil sudah dapat menggantikan pesawat-pesawat yang tua. Fasilitas saat ini di base ops sangat kecil, sehingga belum memungkinkan untuk diisi pesawat tempur,” ungkapnya.

Jika sarana dan fasilitas ini sudah siap, TNI AU tentunya segera menyiagakan Super Tucano yang dapat terbang “low speed” ini. Apalagi, posisi Balikpapan terbilang strategis untuk kepentingan pengamanan perbatasan, maupun mengurangi potensi illegal logging dan fishing.

Terpisah, menindak lanjuti inspeksi mendadak dua hari lalu, Ketua Komisi I DPRD Kaltim Sudarno menyebut pihaknya akan membantu segala kekurangan infrastruktur menyangkut keamanan perbatasan.

“Belum adanya pesawat tempur di sini (Balikpapan) tentu menjadi sorotan. Seharusnya peningkatan status Lanud dibarengi fasilitas yang ada. Hal ini berkaitan dengan pengamanan perbatasan. Jadi, pastinya Pemprov akan membantu selagi dana juga tersedia," kata Sudarno.



Sumber : Kaltim Post



 
  AGENDA KEGIATAN
  KOMENTAR
  ONLINE SERVICE
 
 
 
Designed by
Tim Web Dishub